Monday, February 20, 2017

Doa dan Perkataan Baik


Ta’awwudz

أَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk


Basmalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


Syahadatain

أَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ الله  وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh


Tasbih

سُبْحَانَ الله
Maha Suci Alloh




Tahmid / Hamdalah

اَلْحَمْدُ ِلله
Segala puji hanya milik Alloh


Takbir

اَللهُ اَكْبَر
Alloh Maha Besar


Tahlil

لاَاِلَهَ اِلاَّالله
Tiada Tuhan selain Alloh


Istighfar

أَسْتَغْفِرُالله
Aku mohon ampunan-Mu Ya Alloh


Iqtishodiyah / Insya Alloh:

اِنْ شَاءَ الله
Apabila Alloh menghendaki


Taqdiriyah / Masya Alloh:


مَاشَاءَ الله
Semua ini kehendak Alloh


Pasrah/Tawakal/Hauqolah:

لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِالله
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh


Istirja’:

إِ نَّالِلَّهِ وَإِ نَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْن
Sesungguhnya kita milik Alloh dan hanya kepada Alloh kita akan kembali


Talbiyah ;

لَبَّيْكَ اللهُمَّ لبيك, لبيك لاَ شَرِيْكَ لَكَ لبيك, إنَّ الْحَمْدَوَالنِّعْمَةَ لَكَ, وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Iya Ya Alloh (kupenuhi panggilanMu), iya ya Alloh tiada sekutu bagiMu, sesungguhnya segala puji hanya milikMu, juga seluruh kerajaan, tiada sekutu yang menyamaiMu.

Salam:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكاَتُهُ

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ اَلسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكاَتُهُ

Doa Naik Kendaraan


NAIK KENDARAAN
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هذَا
SUB_HAANAL LADZII SAKH-KHORO LANAA HAADZAA
Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini
وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
WAMAA KUNNAA LAHUU MUQRINIIN
Bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,
وَإِنَّا إِلى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ
WA INNAA ILAAA ROBBINAA LAMUNQOLIBUUN.
dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami
سورة الزخرف﴿١٣﴾﴿١٤﴾

(QS. AZZUKHRUF j;25 a;13-14 s;43)

Doa Sebelum Belajar


DO'A SEBELUM BELAJAR 01
Do'a Awal Majlis
أَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ
ALLOHUMMA INNII A’UDZUBIKA
Ya Alloh aku mohon perlindunganMu
أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ
AN ADLILLA AU UDLOLLA
dari tersesat atau disesatkan
أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ
AU AZILLA AU UZALLA
atau dari terpeleset atau dipelesetkan/dipalingkan
أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ
AU ADHLIMA AU UDHLAMA
atau dari berbuat dholim atau didholimi
أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
AU AJHALA AU YUJHALA ‘ALAYYA.
atau dari berbuat bodoh atau dibodohi
رواه أبو داود
(الأذكار ص24)
(HR Abu Dawud)
kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 24



DO'A SEBELUM BELAJAR 02
رَضِيْتُ باللّه رَبَّاً،
RODLIITU BILLAAHIROBBAA
Aku ridlo Alloh sebagai Tuhanku
وَبالإِسْلامِ دِيْناً،
WABIL ISLAAMIDIINA
Dan agama Islam itu sebagai agamaku,
وبِمُحَمَّدٍ نَبِيَّاً وَرَسُوْلاً
WABIMU_HAMMADIN NABIYYAWWAROSUULAA
Dan Nabi Muhammad itu sebagai Nabi dan Utusan Alloh
(HR. Achmad no.18199, Ibnu Maajah no.3860)
& kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 74



DO'A SEBELUM BELAJAR 03
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا،
ROBBII ZIDNII 'ILMAA
Ya Alloh Tambahkanlah aku ilmu
وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا
WARZUQNII FAHMAA
Dan berilah aku karunia untuk dapat memahaminya
وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ
WAJ'ALNII MINASH-SHOOLI_HIIN
Dan jadikanlah aku termasuk golongannya orang-orang yang shooli_h

آمين يا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
AMIIN YA ROBBAL 'AALAMIIN
Ya Alloh kabulkanlah do'aku ini



DO'A SEBELUM BELAJAR 04
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ
ROBBISYRO_HLII SHODRI
Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku,
وَيَسِّرْلِيْ أَمْرِيْ
WAYASSIRLII AMRII
dan mudahkanlah untukku urusanku,
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ
WA_HLUL ‘UQDATAMMILLISAANII
dan lepaskanlah ikatan (kekakuan) lidahku,
يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
YAFQOHUU QOULII
supaya mereka mengerti perkataanku

(QS. Toha Juz;16 Ayat;25-28 Surat;20)



DO'A SEBELUM BELAJAR 05
رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا،
ROBBI ZIDNII ‘ILMAA
Ya Alloh Tambahkanlah ilmuku
وَوَسِعْ لِيْ فِيْ رِزْقِيْ،
WA WASSI'LII FI RIZQII
luaskanlah rizqiku
وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا رَزَقْتَنِيْ،
WA BAARIKLII FIIMAA ROZAQTANII
dan berkahilah rizqi yang telah Engkau berikan kepadaku
وَاجْعَلْنِيْ مَحْبُوْبًا فِيْ قُلُوْبِ عِبَادِكْ،
WAJ'ALNII MA_HBUUBAN FII QULUUBI 'IBAADIK
jadikanlah aku orang yang dicintai dalam hati ham-bahMu
وَعَزِيْزًا فِيْ عُيُوْنِهِمْ،
WA ‘AZIIZAN FII 'UYUUNIHIM
serta mulia dalam pandangan mereka
وَاجْعَلْنِيْ وَجِيْهًا فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ,
WAJ'ALNII WAJIIHAN FID DUN-YAA WAL AAKHIROH
Jadikanlah aku terpandang di dunia dan akhirat
وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ،
WA MINAL MUQORROBIIN
dan termasuk orang-orang yang dekat denganMu
يَاكَثِيْرَالنَّوَالِ،
YAA KATSIIRON NAWAAL
wahai dzat yang banyak memberi
يَا حَسَنَ الْفِعَالِ،
YAA _HASANAL FI'AAL
Wahai dzat yang baik (sempurna) dalam segala urusan
يَاقَائِمًابِلاَزَوَالٍ،
YAA QOO-IMAM BILAA ZAWAAL
Wahai dzat yang tegap berdiri (berkuasa) tanpa tergelincir (turun tahta)
يَامُبْدِأً بِلاَ مِثاَلٍ،
YAA MUBDI'AN BILAA MITSAAL
Wahaai dzat yang memulai tanpa ada satu contoh
فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الْمِنَّةُ,
FALAKAL _HAMDU WALAKAL MINNAH
Hanya bagiMu segala puji dan segala anugrah
وَلَكَ الشَّرَفُ عَلَى كُلِّ حَالٍ
WALAKASy- SYAROFU ‘ ALAA KULLI _HAAL
Hanya milikMulah segala kemuliaan atas segala keadaan
(HR At Tirmidzi)
kitab Tawajjuhaat halaman 70

Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi


MASUK KAMAR MANDI
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلخُبُثِ وَاْلخَبَائِثِ
ALLOHUMMA INNIII A’UDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAAA-ITS.
Ya Alloh aku mohon perlindunganMu dari godaan Syetan
رواه البخاري135 و مسلم563
(الأذكار ص27)
(HR. ِAl-Bukhori no.135 dan Muslim no.563)
kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 38


KELUAR KAMAR MANDI


DOA KELUAR KAMAR MANDI 01
غُفْرَانَكَ
GHUFROONAKA
saya mohon ampunanMu
رواه الترمذي 7
وأبو داود 28
ابن ماجه 297
وأحمد 24063
والدارمي 677
(HR. At-Turmudzi no.7 Abu Dawud no.28 & ibnu Majah no.297 Ahmad no.24063 & Ad-Daarimy no.677 )


DOA KELUAR KAMAR MANDI 02
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي اْلأَذَى وَعَافَنِيْ
AL_HAMDULILLAHIL LADZII ADZHABA ‘ANNIL ADZAA WA ‘AAFANII
Segala puji bagi Alloh yang telah menge-luarkan kotoran dariku dan selalu mengampuniku.
رواه البخاري297
( (HR. Al-Bukhori no.297
( رواه النسائي في كتاب عمل اليوم ص42 )
(HR. An Nasa’i pada kitab 'Amal Al-Yaum halaman 42 )

Doa Keluar dan Masuk Rumah


KELUAR RUMAH

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ,
BISMILLAHI TAWAKKALTU 'ALALLOOHI
Dengan menyebut nama Alloh kuserahkan segalanya pada Alloh
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
, LAA _HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.
, tiada usaha serta kekuatan melainkan atas pertolongan Alloh.
رواه الترمذي 3348
(HR. AT-TURMUDZI no.3348)




DOA MASUK RUMAH
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَ اْلمَوْلَجِ
ALLOHUMMA INNI AS'ALUKA KHOIROL MAULAJI
Ya Alloh. Aku mohon padaMu sebaik-baik pintu masuk
وَخَيْرَ اْلمَخْرَجِ
WA KHOIROL MAKHROJ
dan sebaik-baik pintu keluar
بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا, وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا
BISMILLAHI WALAJNAA, WA BISMILLAHI KHOROJNAA
Dengan menyebut namaMu kami masuk dan dengan menyebut nama-Mu kami keluar
وَعَلَى اللَّهِ رَبَّنَا تَوَكَّلْنَا
WA ‘ALALLOHI ROBBINAA TAWAKKALNAA
dan kepadaMu kuserahkan segalanya

رواه أبو داود 4432
(HR Abu Dawud no.4432)

Doa Sebelum dan Bangun Tidur


DOA SEBELUM TIDUR 01
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا.
BISMIKA ALLOHUMMA AMUUTU WA A_HYAA.
Dengan menyebut namaMu Ya Alloh aku akan mati (tidur) dan akan hidup (bangun)
رواه البخارى
(HR. Al-Bukhori)



DOA SEBELUM TIDUR 02
بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا.

BISMIKA AMUUTU WA A_HYAA.
Dengan menyebut namaMu aku akan hidup (bangun) dan aku akan mati (tidur)
رواه البخارى5837
(HR. Al-Bukhori no.5837)



BANGUN TIDUR
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا
AL_HAMDU LILLAHIL LADZII A_HYAANAA
Segala puji bagi Alloh yang telah membangunkan kami
بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْر
BA'DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR
setelah menidurkan kami setelah mematikan aku dan hanya kepada Alloh tempat kembali
رواه البخاري 5837
(HR. Al-Bukhori no.5837)

Pandangan Akan Tartil dalam Membaca Al-Qur'an


Tajwid menurut bahasa berasal dari kata جود - يجود - dengan arti احسن -يحسن yang berarti bagus atau membaguskan. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an maupun bukan.

Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf),ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.

Inilah yang dimaksud dengan membaca al-Qur’an dengan tartil sebagaimana firman-Nya yang artinya ورتل القران ترتيلا: “Bacalah al-Qur’an itu dengan tartil”. Sedangkan arti tartil menurut Ibn Katsir adalah membaca dengan perlahan-lahan dan hati-hati karena hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap al-Qur’an.
Ilmu Tajwid bertujuan untuk memberikan tuntunan bagaimana cara pengucapan ayat yang tepat, sehingga lafal dan maknanya terpelihara. Pengetahuan tentang makhraj huruf memberikan tuntunan bagaimana cara mengeluarkan huruf dari mulut dengan benar. Pengetahuan tentang sifat huruf berguna dalam pengucapan huruf. Dalam ahkamul maddi wal qashr berguna untuk mengetahui huruf yang harus dibaca panjang dan berapa harakat panjang bacaannya. Ahkamul waqaf wal ibtida’ ialah cara untuk mengetahui dimana harus berhenti dan dari mana dimulai apabila bacaan akan dilanjutkan.

ورتل القران ترتيلا "Warattililqur aana Tartilan", itulah sepotong ayat dalam Al-qur'an yang Mulia Surah Al-Muzzammil ayat 4, yang mengingatkan kepada kita umat muslim untuk senantiasa berusaha memperjelas dan memperhatikan makharijul huruf, tajwid pada saat membaca Al-Quran yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasul SAW melalui perantaraan Jibril A.S untuk dijadikan pegangan, haluan hidup Muslim dalam kehidupan kita Dunia dan Akhirat. Makna lainnya adalah “Agar engkau dapat memahami dan merenungkan berbagai makna dari ayat yang kau baca, maka bacalah Al Quran dengan tartil, perlahan, tidak tergesa-gesa, dan terlalu cepat. Kita dilarang membaca Al Quran terlalu cepat dan tidak tartil.”

Membaca Al Quran dengan suara merdu adalah sunnah. Suara yang merdu membantu seseorang untuk menghadirkan kekhusyukan hati dan membantunya mendengarkan Al Quran dengan baik.
Mari bergabung dengan menyatukan niat untuk senantiasa berusaha dan istiqamah membaca ayat-ayat Allah Tabaraka wa Ta'ala dengan Tartil.

Lebih dasar tentang Tartil adalah membaca Al-Qur'an sesuai keharusan ilmu tajwid sehingga bisa membedakan mana yang harus panjang/pondok, gunnah/tidak gunnah, berhenti (waqof)/lanjut (wasal), menyesuaikan keluarnya huruf hijaiyyah (makhroj huruf) dan dengan itulah sekalipun kita suara pas-pasan (apa adanya) jika membaca dengan ilmunya kedengaran enak dan berpedoman.

Merupakan satu kewajiban asas dasar Hukum belajar Tajwid untuk membaca Al-Qur'an
Sumber:  http://ilmutajwid-rizky.blogspot.co.id/

Bagaimana Seharusnya Membalas Budi?


Saat kita diberi kebaikan oleh orang lain maka janganlah lupa untuk membalas kebaikannya, jika tidak mampu membalas maka minimal dengan mendoakannya. Simaklah teladan para Salaf dalam akhlak yang mulia ini.



Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat, Sayyidina Bilal bin Rabah radhiallahu anhu memohon kepada khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu anhu agar diperkenankan tidak menjadi Muazin di Masjid Nabawi lagi. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, Ash Shiddiq merasa keberatan untuk mengabulkan permohonan Bilal berhenti mengumandangkan azan dan keluar dari kota Madinah. Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas memilih jalan hidupku”.
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu karena Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah. Baiklah, aku mengabulkan permohonanmu”.
Perlu bagi kita untuk merenungkan ucapan Bilal kepada khalifah Abu Bakar, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas memilih jalan hidupku”.
Saat kita berbuat baik kepada orang lain hendaknya kita mengharapkan ridha Allah dan tidak mengharapkan balasan dari manusia dan bukan untuk memperbudaknya. Saat kita diberi kebaikan oleh orang lain maka janganlah lupa untuk membalas kebaikannya, jika tidak mampu membalas maka minimal dengan mendoakannya.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ
Tidak bersyukur kepada Allah seorang yang tidak berterima kasih kepada manusia” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, 1/702).
Bagaimana jika ada orang lain yang telah berjasa besar dalam kehidupan kita dan dia mengajak kita untuk mengikuti ajaran dan keyakinannya yang bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah? Bagaimana sikap pejabat terhadap orang yang telah berjasa besar kepadanya lalu berbuat kesalahan yang berhak dihukum? Apakah dia bersikap tegas? Bagaimana sikap seorang perempuan kepada laki-laki yang telah berjasa besar atau telah banyak menolongnya, lalu laki-laki itu mengajaknya berbuat maksiat atau meminta kehormatannya, mengajaknya berbuat nista? Apakah ia akan bersifat lemah dan mengikuti ajakan setan?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan dengan problem seperti ini. Problem ini dialami hampir oleh setiap individu, apalagi oleh seorang pemimpin atau pejabat.
Wajib untuk setiap muslim bersyukur kepada Allah atas segala nikmatNya dengan menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya. Wajib bagi setiap muslim untuk mendahulukan Allah dan mencintaiNya lebih dari cinta kita kepada orang tua kita, guru kita dan orang yang telah berjasa kepada kita. Wajib bagi setiap muslim untuk lebih mencintai Allah dari cinta kita kepada jabatan. Wajib bagi setiap muslim untuk mengutamakan akhirat dari dunia.
Sebisa mungkin kita hindari menerima jasa kebaikan dari orang yang kita ragukan keikhlasannya. Jika kita sudah terlanjur menerima kebaikan dari orang lain dan ternyata dia meminta kita (meskipun secara halus) untuk berbuat dosa atau mengikuti pemahamannya yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka HARAM atas kita mengikuti pemahaman orang tersebut.
Balas budi kita kepadanya dan terimakasih kita kepadanya adalah dengan mendoakannya agar Allah memberinya hidayah dan kita berusaha semampu kita untuk menyelamatkannya dari penyimpangan. Kita bisa memberinya buku-buku yang bermanfaat, kaset-kaset yang menjelaskan pemahaman yang benar dan membantah pemahamannya yang sesat dengan cara yang baik jika orang yang telah berjasa kepada kita memang orang baik. Jika ia bukan orang baik maka cukup doakan saja dan kita menghindari dari keburukannya.
Bagi para pemimpin dan pejabat hendaknya bersikap tegas dan adil sesuai syariat Islam bagaimana seharusnya menghukum jika ada bawahannya atau siapapun yang berbuat salah yang memang seharusnya untuk dihukum. Seorang hakim berkewajiban bersikap adil saat memutuskan perkara siapapun yang diadilinya.
Amirul Mukminin Umar bin Khathab radhiallahu anhu membeli seekor kuda dari seorang arab badui. Setelah membayarnya, beliau menaiki kuda tersebut dan bermaksud pulang menuju rumahnya. Namun tak seberapa jauh dari tempat itu, tiba-tiba kuda tersebut menjadi cacat dan tak mampu melanjutkan perjalanan. Maka Umar membawanya kepada si penjual untuk mengembalikan atau menggantinya dengan kuda yang lain. Penjual kuda menolak, sampai akhirnya mereka berdua sepakat untuk meminta kepada Syuraih bin Harits seorang hakim yang diangkat oleh Umar untuk menghakimi perselisihan di antara keduanya.
Amirul mukminin Umar bin Khathab bersama penjual kuda tersebut mendatangi Syuraih. Umar mengadukan penjual itu kepadanya. Setelah mendengarkan juga keterangan dari orang dusun tersebut, Syuraih menoleh kepada Umar bin Khathab sambil berkata, “Apakah Anda mengambil kuda darinya dalam keadaan baik?” Umar: “Benar, aku mengambilnya dalam keadaan baik”.
Syuraih: “Ambillah yang telah Anda beli wahai Amirul Mukminin, atau kembalikan kuda tersebut dalam keadaan baik seperti tatkala Anda membelinya”.
Umar: (memperhatikan Syuraih dengan takjub lalu berkata) “Hanya beginikah pengadilan ini? Kalimat yang singkat, dan hukum yang adil”.
Syuraih dikenal dengan keputusannya yang selalu bersikap netral dan adil.
Kita perlu mengamalkan doa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,
اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ ، وَالْحَزَنِ ، وَالْعَجْزِ ، وَالْكَسَلِ ، وَالْبُخْلِ ، وَالْجُبْنِ ، وَفَضَحِ الدَّيْنِ ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dan kesedihan, dari ketidakberdayaan dan kemalasan, dari sifat penakut dan sifat kikir, dari terlilit hutang dan aku berlindung kepadaMu dari diperbudak oleh orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim).
***
Penulis: Ust. Fariq Gasim Anuz, Lc.
Sumber;Artikel Muslim.or.id

Jangan Lupakan Doa Ini Ketika Tasyahud Sebelum Salam


Rasulullah صلى الله عليه و سلم menganjurkan kita untuk memperbanyak doa setelah tasyahud sebelum salam dan yang lebih utama adalah doa berikut ini..


Doa Sebelum Salam Doa Setelah Tahiyat Akhir Doa Setelah Tasyahud Akhir Doa Tasyahud Akhir Doa Sesudah Tahiyat Akhir
Rasulullah صلى الله عليه و سلم menganjurkan kita untuk memperbanyak doa setelah tasyahud sebelum salam, sebagaimana dijelaskan, bahwa Rasulullaah صلى الله عليه و سلم bersabda:
لا تقولوا السلامُ على اللهِ فإنّ اللهَ هو السلامُ ولكن إذا جلس أحدُكم فليقُلْ التحيات للهِ والصلواتُ والطيباتُ السلامُ عليك أيها النبي ورحمةُ اللهِ وبركاتُه السلامُ علينا وعلى عبادِ اللهِ الصالحينَ فإنكم إذا قلتُم ذلك أصاب كل عبدٍ صالحٍ في السماءِ والأرضِ أو بين السماءِ والأرضِ أشهد أن لا إله إلا اللهُ وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه ثم لِيتخيرْ أحدُكم من الدعاءِ أعجبَه إليه فيدعو بهِ
Janganlah kalian berkata: ‘assalaamu ‘alaLLaah’ (keselamatan atas Allah), karena Dia-lah as-Salaam. Jika kalian duduk (tasyahud), maka ucapkanlah: ‘at-Tahiyaatu lillaah, wash-Shalaatutuh thayyibaat, assalaamu ‘alayka ayyuhannabiy warahmatullaahi wabarakaatuh, assalaamu ‘alayna wa ‘ala ibaadillaahish shaalihiin’. Jika kalian telah mengucapkan demikian, maka doa tersebut akan meliputi semua hamba yang shalih di langit dan di bumi, ataupun di antara keduanya. (kemudian ucapkanlah) ‘asyhadu an laa ilaaha illaLLaah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh’. Kemudian hendaklah dia memilih doa, yang dia sukai untuk berdoa dengannya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, Abu Daud).
Dalam hadits lain disebutkan:
إِذَا صَلى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثنَاءِ عَلَيْهِ ثُم لْيُصَلِّ عَلَى النبِيِّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ ثُم لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ
Apabila salah seorang di antara kalian shalat maka hendaklah ia memulai dengan memuji Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه و سلم kemudian berdoalah setelah itu dengan doa yang ia kehendaki“. (HR. At-Tirmidzi).
Di antara doa yang hendaknya kita baca setelah membaca tasyahud adalah doa yang di jelaskan dalam riwayat berikut:
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ دخلَ المسجدَ، إذا رجلٌ قد قَضى صلاتَهُ وَهوَ يتشَهَّدُ، فقالَ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ، فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: قَد غَفرَ اللَّهُ لَهُ، ثلاثًا
“Bahwasanya Rasulullaah صلى الله عليه و سلم masuk masjid, dan ada seorang lak-laki yang sedang shalat, dalam keadaan bertasyahud, ia berdoa (dalam tasyahudnya:
اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ
/Allaahumma inni as-aluka yaa Allaah, bi annakal waahidul ahadush shamad, alladziy lam yalid wa lam yuulad wa lam yakul-lahu kufuwan ahad, an taghfiraliy dzunuubiy innaka antal ghafuuur rahiim/
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ya Allah, Yang Maha Esa lagi tempat bergantungnya seluruh makhluk, Yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, agar engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’
Maka Rasuulullaah bersabda: Sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya“. (HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, dan dishahihkan oleh syekh al-Albani).
Subhanallah, sebuah doa yang agung, yang apabila kita membacanya kita mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala.
Oleh karena itu marilah kita berusaha untuk menghafalkan doa ini, dan berusaha membacanya ketika kita bertasyahud, agar kita mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala.
Mudah-mudahan Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk mengamalkannya.
آمين يا رب العالمين
***
Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.
Sumber:Artikel Muslim.or.id

6 Syarat Agar Shalat Bisa Menyejukkan Pandangan Dan Menenangkan Hati


Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat 6 hal yang mesti terkumpul pada diri seseorang agar shalat yang dikerjakan mampu menjadi penyejuk pandangan dan penenang hati.


6 Syarat Sholat Tenangkan Hati Maqam Memiliki Pandangan Yang Menenangkan Menyejukan Jiwa Shalat Untuk Nenangin Hati
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat 6 hal yang mesti terkumpul pada diri seseorang agar shalat yang dikerjakan mampu menjadi penyejuk pandangan dan penenang hati.
Keenam hal tersebut adalah sebagai berikut :

1. Ikhlas

Bahwa faktor pendorong dan motif mendirikan shalat adalah keinginan dan kecintaan hamba kepada Allah, mencari keridhaan-Nya, memperoleh kedekatan dengan diri-Nya, menunjukkan kecintaan kepada-Nya, serta menaati perintah-Nya.
Bukan didorong oleh maksud dan tujuan duniawi. Namun, semata-mata untuk mengharapkan kesempatan melihat Wajah Allah kelak di surga karena cinta kepada-Nya, takut akan siksa-Nya, dan berharap memperoleh ampunan dan pahala dari-Nya.

2. Kejujuran dan ketulusan

Berupaya untuk mengosongkan hati untuk Allah di dalam shalat, mencurahkan segenap kemampuan agar hati mampu menghadap Allah dan fokus di dalam shalat, serta melaksanakan shalat dengan bentuk yang paling baik dan sempurna ditinjau dari aspek lahir dan batin.
Hal ini mengingat shalat memiliki dua aspek, yaitu :
  1. Aspek lahir yang mencakup gerakan dan dzikir shalat, dan
  2. Aspek batin yang mencakup khusyu’, muraqabah (merasa diawasi Allah), memfokuskan dan menghadapkan hati secara total kepada Allah di dalam shalat sehingga hati sedikit pun tidak berpaling pada selain-Nya.
Aspek batin ini layaknya ruh bagi shalat. Sementara aspek lahir laksana badan. Analoginya, jika shalat kosong dari aspek batin tersebut, maka pastilah serupa dengan suatu badan yang tidak memiliki ruh.
Apakah kita sebagai hamba tidak malu jika menghadap Allah dalam shalat dengan kondisi demikian?

3. Menjadikan shalat Nabi sebagai pedoman

Bersungguh-sungguh agar shalat yang dikerjakan sesuai dengan yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tidak mengacuhkan berbagai bentuk inovasi gerakan dalam shalat yang diada-adakan, tidak pula memperhatikan berbagai kreasi dalam shalat yang keabsahannya tidak pernah diketahui berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah seorang sahabat beliau.

4. Ihsan

Ihsan berarti merasa dirinya diawasi Allah sehingga dia menyembah seakan-akan Allah berada di hadapannya.
Kedudukan ihsan ini merupakan pokok seluruh amalan hati. Ihsan akan melahirkan sifat malu untuk bermaksiat, memuliakan dan menghormati-Nya, takut dan cinta kepada-Nya, tunduk dan merasa hina di hadapan-Nya, memutus keraguan hati, dan memfokuskan hati dan keinginan menuju ridha Allah.
Kedekatan hamba dengan Allah sangat bergantung pada seberapa besar maqam ihsan yang terdapat pada dirinya.
Demikian juga kadar ihsan pada diri seseorang menentukan perbedaan kualitas shalat yang dikerjakan, sehingga dua orang yang mengerjakan shalat dengan bentuk qiyam, ruku’, dan sujud yang serupa namun keutamaan yang diperoleh keduanya dapat berbeda jauh seperti langit dan bumi.

5. Mengakui karunia-Nya

Bersaksi bahwa segala kenikmatan bersumber dari Allah semata, karena Dia-lah yang menegakkan dirinya di kedudukan ini, membimbing, dan memberikan taufik sehingga hati dan raganya mampu berkhidmat kepada-Nya.
Seandainya bukan karena Allah, semua itu tidak akan terjadi.
Persaksian ini merupakan merupakan persaksian yang paling agung dan mendatangkan manfaat bagi hamba. Sangat bergantung pada kadar tauhid seseorang. Di mana persaksian ini semakin sempurna seiring dengan peningkatan tauhid pada diri hamba.
Salah satu manfaatnya adalah persaksian ini akan mencegah hati hamba dari sikap mengingat-ingat dan merasa bangga dengan amal yang telah dilakukan.
Ketika hamba mengakui dengan tulus bahwa Allah yang telah memberikan karunia, taufik, dan petunjuk pada dirinya, tentu dia akan tersibukkan dari mengingat-ingat dan merasa bangga terhadap amalnya.

6. Senantiasa merasa memiliki kekurangan

Betapa pun serius seorang hamba melaksanakan perintah dan mengeluarkan tenaga dengan maksimal, tetap akan ada kelalaian dan kekurangan.
Hak Allah teramat besar. Atas karunia yang telah diberikan-Nya adalah layak bagi Allah menerima ketaatan, penghambaan, dan khidmat yang lebih. Keagungan dan kemuliaan-Nya menuntut penghambaan yang layak bagi diri-Nya.
Apabila para pelayan dan pembantu para raja memperlakukan mereka dengan penuh pemuliaan, pengagungan, penghormatan, disertai rasa sungkan, takut, sehingga hati dan fisik mereka fokus pada apa yang diinginkan sang raja.
Maka tentu, Raja segala raja, Rabb langit dan bumi, lebih berhak untuk diberi perlakuan demikian bahkan dengan derajat perlakuan yang lebih tinggi.
***
Referensi: Risalah Ibn al-Qayyim ilaa Ahadi Ikhwaanihi
Penyusun: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Sumber:Artikel Muslim.or.id

3 Jalan Memperbaiki Diri


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah tiga amalan. Apa saja itu? Simak...



Manusia setiap hari membuat dosa dan kesalahan, yang jika terus menumpuk akan merusak jiwanya. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya, telah memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah tiga amalan dalam sabdanya :
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab : mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda : menyempurnakan wudhu di saat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat, itulah ribath (perjuangan)” (HR.Muslim).
Itulah tiga jalan untuk memperbaiki diri kita, menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita di sisi Allah.
Pertama, berwudhu di saat yang berat, misalnya setiap kali hendak tidur atau waktu lainnya, dan bahkan setiap kali batal wudhu disunnahkan untuk memperbaharui wudhu kita.
Kedua, banyak melangkah menuju masjid, yaitu senantiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria.
Ketiga, menunggu sholat setelah sholat, misalnya setelah sholat Maghrib berjamaah tetap duduk berdzikir atau berdoa atau kajian ilmu sambil menunggu didirikannya sholat Isya.
Inilah 3 jalan yang memperbaiki keadaan diri kita. Mari kita tempuh 3 jalan tersebut dengan penuh kesungguhan, karena membutuhkan perjuangan berat melawan malas dan lemahnya jiwa.
Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan ketiganya.. aamiin